CLUSTERING KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI PAPUA BERDASARKAN INDIKATOR KEMISKINAN MENGGUNAKAN METODE K-MEDOIDS
Abstrak
Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis berbagai variabel terkait informasi kemiskinan tingkat kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2020. Angka kemiskinan tiap kabupaten/kota di Indonesia berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan oleh banyak indikator yang berbeda seperti: indeks pembangunan manusia, angka penduduk, pendapatan per kapita, angka melek huruf, akses terhadap pendidikan, akses terhadap air bersih dan kualitas yang cukup, dll. Sehingga digunakan metode clustering K-Medoids untuk mengelompokkan berdasarkan indikator-indikator tersebut. Algoritma K-Medoids merupakan salah satu metode clustering yang diusulkan untuk mengatasi kelemahan algoritma K-Means yang sensitif terhadap outlier karena suatu objek dengan nilai yang tinggi dapat menyimpang secara signifikan dari sebaran datanya. Algoritm K-Medoids menggunakan data alih-alih merata-ratakan pusat cluster. Dengan menggunakan analisis K-Medoids diperoleh cluster optimal sebanyak 2 cluster yang dikategorikan sebagai Kabupaten/Kota dengan indikator kemiskinan sedang dan tinggi dari 29 kabupaten/kota, dimana pada cluster 1 dengan 17 Kabupaten/Kota tergolong kemiskinan tinggi karena pada cluster ini Indeks Pembangunan Manusia dan Laju Pertumbuhan PDRB tergolong rendah dan Persentase Penduduk Miskin tinggi. Untuk cluster 2 dengan 12 Kabupaten/kota tergolong kemiskinan sedang karena pada cluster ini Indeks Pembangunan Manusia dan Laju Pertumbuhan PDRB tinggi sedangkan Persentase Penduduk Miskin rendah.
Unduhan
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 CAECILIA BINTANG GIRIK ALLO

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Artikel yang diterbitkan dalam jurnal ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution 4.0 International License (CC BY 4.0), yang memungkinkan penggunaan, distribusi, dan reproduksi dalam media apa pun, selama penulis dan sumber asli dikutip dengan benar.