Bentuk-Bentuk Kekerasan Dalam Pacaran yang Dialami Perempuan Penyintas di Kota Makassar
DOI:
https://doi.org/10.31957/jap.v7i1.5496Keywords:
antropologi, kekerasan dalam pacaran, perempuan penyintas, patriarki, Kota MakassarAbstract
Penelitian ini mengkaji fenomena kekerasan dalam pacaran (KDP) yang dialami oleh perempuan penyintas di Kota Makassar melalui perspektif Antropologi. Fokus utama penelitian ini adalah mengeksplorasi bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi serta bagaimana konstruksi budaya dan relasi gender memengaruhi pengalaman para penyintas. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap enam perempuan penyintas serta satu informan kunci dari UPTDPPA Kota Makassar. Pemilihan informan dilakukan secara sengaja menggunakan teknik snowball sampling mengingat sensitivitas topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KDP di Kota Makassar manifestasi dalam empat bentuk utama: kekerasan verbal, fisik, psikologis, dan ekonomi. Kekerasan verbal seperti makian "sundala" dan "lonte" sering kali menjadi tahap awal yang kemudian berkembang menjadi kekerasan fisik berupa penamparan, pencekikan, hingga pembenturan kepala. Secara psikologis, penyintas mengalami tindakan manipulatif seperti gaslighting dan silent treatment yang merusak otoritas diri. Penelitian ini juga mengungkap adanya kekerasan ekonomi dalam bentuk eksploitasi finansial. Temuan studi menegaskan bahwa budaya patriarki dan normalisasi sifat posesif sebagai bentuk "cinta" menjadi akar utama langgengnya siklus kekerasan ini. Studi ini merekomendasikan pentingnya penanganan psikologis yang tuntas bagi penyintas untuk mengatasi hambatan penyangkalan (denial) dan memutus rantai kekerasan sebelum berlanjut ke jenjang pernikahan.









